We Are Creative Design Agency

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Illum, fuga, consectetur sequi consequuntur nisi placeat ullam maiores perferendis. Quod, nihil reiciendis saepe optio libero minus et beatae ipsam reprehenderit sequi.

Find Out More Purchase Theme

Our Services

Lovely Design

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Great Concept

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Development

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

User Friendly

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent feugiat tellus eget libero pretium, sollicitudin feugiat libero.

Read More

Recent Work

Jumat, 08 Agustus 2014

Untuk Orang Tua, Jangan Lakukan 37 Aktivitas ini Saat Mendidik Anak

Menikah kemudian dikaruniai amanah putra atau putri oleh Allah adalah sebuah kebahagian yang sangat luar biasa, namun tidak sedikit bagi para orang tua kurang berhati-hati dalam mendidik buah hatinya. Tanpa terasa cara mendidik yang dilakukan orang tua akan berpengaruh negatif kepada diri anak.
Berikut 37 kebiasaan orang tua dalam mendidik anak yang dapat menghasilkan perilaku buruk pada anak
1. Raja yang Tak Pernah Salah

Sewaktu anak kita masih kecil dan belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja mereka menabrak kursi atau meja. Lalu mereka menangis. Umumnya, yang dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak. Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah Papa/Mama pukul kursi/mejanya…sudah cup….cup…diem ya..Akhirnya si anak pun terdiam.

Ketika proses pemukulan terhadap benda benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah bersalah.

Yang salah orang atau benda lain. Pemikiran ini akan terus terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa dan terjadi suatu kekeliruan, maka yang keliru atau salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar. Akibat lebih lanjut, yang pantas untuk diberi peringatan sanksi, atau hukuman adalah orang lain yang tidak melakukan suatu kekeliruan atau kesalahan.

Kita sebagai orang tua baru menyadari hal tersebut ketika si anak sudah mulai melawan pada kita. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar kita telah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bersalah.
Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika si anak yang baru berjalan menabrak sesuatu sehingga membuatnya menangis?
Yang sebaiknya kita lakukan adalah ajarilah ia untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi; katakanlah padanya (sambil mengusap bagian yang menurutnya terasa sakit): ” Sayang, kamu terbentur ya. Sakit ya? Lain kali hati-hati ya, jalannya pelan-pelan saja dulu supaya tidak membentur lagi.”



2. Berbohong Kecil, Berbohong pada Anak


Awalnya anak-anak kita adalah anak yang selalu mendengarkan kata-kata orang tuanya, Mengapa? KArena mereka percaya sepenuhnya pada orang tuanya. Namun, ketika anak beranjak besar, ia sudah tidak menuruti perkataan atau permintaan kita? Apa yang terjadi? Apakah anak kita sudah tidak percaya lagi dengan perkataan atau ucapan-ucapan kita lagi?

Tanpa sadar kita sebagai orang tua setiap hari sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak berkeliling perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengalihkan perhatian si kecil ke tempat lain, setelah itu kita buru-buru pergi? Atau yang ekstrem kita mengatakan, “Papa/Mama hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya, sebentaaar saja ya, Sayang.” Tapi ternyata, kita pulang malam. Contah lain yang sering kita lakukan ketika kita sedang menyuapi makan anak kita, “Kalo maemnya susah, nanti Papa?Mama tidak ajak jalan-jalan loh.” Padahal secara logika antara jalan-jalan dan cara/pola makan anak, tidak ada hubungannya sama sekali.

Dari beberapa contah di atas, jika kita berbohong ringan atau sering kita istilahkan “bohong kecil”, dampaknya ternyata besar. Anak tidak percaya lagi dengan kita sebagai orang tua. Anak tidak dapat membedakan pernyataan kita yang bisa dipercaya atau tidak. akibat lebih lanjut, anak menganggap semua yang diucapkan oleh orang tuanya itu selalu bohong, anak mulai tidak menuruti segala perkataan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan penuh kasih dan pengertian:

“Sayang, Papa/Mama mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo Papa/Mama ke kebun binatang, kamu bisa ikut.”

Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita harus bersabar dan lakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami keadaan mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut. Sebaliknya bila pergi ke tempat selain kantor, anak pasti diajak orang tuanya. Pastikan kita selalu jujur dalam mengatakan sesuatu. Anak akan mampu memahami dan menuruti apa yang kita katakan.

3. Banyak Mengancam
“Adik, jangan naik ke atas meja! nanti jatuh dan nggak ada yang mau menolong!”
“Jangan ganggu adik, nanti Mama/Papa marah!”

Mengancam Anak


Dari sisi anak pernyataan yang sifatnya melarang atau perintah dan dilakukan dengan cara berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan suatu aktivitas, pernyataan itu sudah termasuk ancaman. Terlebih ada kalimat tambahan “….nanti Mama/Papa marah!”

Seorang anak adalah makhluk yang sangat pandai dalam mempelajari pola orang tuanya; dia tidak hanya bisa mengetahui pola orang tuanya mendidik, tapi dapat membelokkan pola atau malah mengendalikan pola orang tuanya. Hal ini terjadi bila kita sering menggunakan ancaman dengan kata-kata,namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita sudah lupa dengan ancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita padanya. tatap matanya dengan lembut, namum perlihatkan ekspresi kita tidak senang dengan tindakan yang mereka lakukan. Sikap itu juga dipertegas dengan kata-kata, “Sayang, Papa/Mama mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu. Papa/Mama akan makin sayang sama kamu.” Tidak perlu dengan ancaman atau teriaka-teriakan. Atau kita bisa juga menyatakan suatu pernyataan yang menjelaskan suatu konsekuensi, misal “Sayang, bila kamu tidak meminjamkan mainan in ke adikmu,Papa/Mama akan menyimpan mainan ini dan kalian berdua tidak bisa bermain. MAinan akan Papa/Mama keluarkan, bila kamu mau pinjamkan mainan itu ke adikmu. Tepati pernyataan kita dengan tindakan.

4. Bicara Tidak Tepat Sasaran, Bicara tepat sasaran


Pernahkah kita menghardik anak dengan kalimat seperti, “Papa/Mama tidak suka bila kamu begini/begitu!” atau “Papa/Mama tidak mau kamu berbuat seperti itu lagi!” Namun kita lupa menjelaskan secara rinci dan dengan baik, hal2 atau tindakan apa saja yang kita inginkan. Anak tidak pernah tahu apa yang diinginkan atai dibutuhkan oleh orang tuanya dalam hal berperilaku. Akibatnya anak terus mencoba sesuatu yang baru.

Dari sekian banyak percobaan yang dilakukannya, ternyata selalu dikatakan salah oleh orang tuanya. Hal ini mengakibatkan mereka berbalik untuk dengan sengaja melakukan hal2 yang tidak disukai orang tuanya. Tujuannya untuk mrmbuat orang tuanya kesal sebagia bentuk kekesalan yang juga ia alami (tindakannya selalu salah di hadapan orang tua).

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Sampaikanlah hal2 atau tindakan2 yang kita inginkan atau butuhkan pada saat kita menegur mereka terhadap perilaku atau hal yang tidak kita sukai.Komnikasikan secara intensif hal atau perilaku yang kita inginkan atau butuhkan. Dan pada waktunya, ketika mereka sudah megalami dan melakukan segala hal atau perilaku yang kita inginkan atau butuhkan , ucapkanlah terimakasih dengan tulus dan penuh kasih sayang atas segala usahanya untuk berubah.

5. Menekankan pada Hal-hal yang salah

Kebiasaan ini hampir sama dengan kebiasaan di atas. Banyak orang tua yang sering mengeluhkan tentang anak2nya tidak akur, suka bertengkar. Pada saat anak kita bertengkar, perhatian kita tertuju pada mereka, kita mencoba melerai atau bahkan memarahi. Tapi apakah kita sebagai orang tua memperhatikan mereka pada saat mereka bermain dengan akur? Kita seringkali menganggapnya tidak perlu menyapa mereka karena mereka sedang akur. Pemikiran tersebut keliru, karena hak itu akan memicu mereka untuk bertengkar agar bisa menarik perhatian orang tuanya,

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Berilah pujian setiap kali mereka bermain sengan asyik dan rukun, setiap kali mereka berbagi di antara mereka dengan kalimat sederhana dan mudah dipahami, misal: ”Nah, gitu donk kalau main. Yang rukun.” Peluklah mereka sebagai ungkapan senang dan sayang.

6. Merendahkan Diri Sendiri


Apa yang anda lakukan kalau melihat anak anda bermain Playstation lebih dari belajar? Mungkin yang sering kita ucapkan pada mereka, “Woy… mati in tuh PS nya, ntar dimarahin loh sama papa kalo pulang kerja!” Atau kita ungkapkan dengan pernyataan lain, namun tetap dengan figur yang mungkin ditakuti oleh anak pada saat itu. Contoh pernyataan ancaman diatas adalah ketika yang ditakuti adalah figur Papa.

Perhatikanlah kalimat ancaman tersebut. Kita tidak sadar bahwa kita telah mengajarkan pada anak bahwa yang mampu untuk menghentikan mereka maen ps adalah bapaknya, artinya figure yang hanya ditakuti adalah sang bapak. Maka jangan heran kalau jika anak tidak mengindahkan perkataan kita karena kita tidak mampu menghentikan mereka maen ps.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Siapkanlah aturan main sebelum kita bicara; setelah siap, dekati anak, tatap matanya, dan katakan dengan nada serius bahwa kita ingin ia berhenti main sekarang atau berikan pilihan, misal “Sayang, Papa/Mama ingin kamu mandi. Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?” bila jawabannya “lima menit lagi Pa/Ma”. Kita jawab kembali, “Baik, kita sepakat setelah lima menit kamu mandi ya. Tapi jika tidak berhenti setelah lima menit, dengan terpaksa papa/mama akan simpan PS nya di lemari sampai lusa”. Nah, persis setelah lima menit, dekati si anak, tatap matanya dan katakan sudah lima menit, tanpa tawar menawar atau kompromi lagi. Jika sang anak tidak nurut, segera laksanakan konsekuensinya.

7. Papa dan Mama Tidak Kompak

Mendidik abak bukan hanya tanggung jawab para ibu atau bapak saja, tapi keduanya. Orang tua harus memiliki kata sepakat dalam mendidik anak2nya. Anak dapat dengan mudah menangkap rasa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi dirinya. Misal, seorang Ibu melarang anaknya menonton TV dan memintanya untuk mengerjakan PR, namun pada saat yang bersamaan, si bapak membela si anak dengan dalih tidak mengapa nonton TV terus agar anak tidak stress.

Jika hal ini terjadi, anak akan menilai ibunya jahat dan bapaknya baik, akibatnya setiap kali ibunya memberi perintah, ia akan mulai melawan dengan berlindung di balik pembelaan bapaknya. Demikian juga pada kasus sebaliknya. Oleh karena itu, orang tua harus kompak dalam mendidik anak. Di hadapan anak, jangan sampai berbeda pendapat untuk hal2 yang berhubungan langsung dengan persoalan mendidik anak. Pada saat salah satu dari kita sedang mendidik anak, maka pasangan kita harus mendukungnya. Contoh, ketika si Ibu mendidik anaknya untuk berlaku baik terhadap si Kakak, dan si Ayah mengatakan ,”Kakak juga sih yang mulai duluan buat gara2…”. Idealnya, si Ayah mendukung pernyataan, “Betul kata Mama, Dik. Kakak juga perlu kamu sayang dan hormati….”

8. Campur Tangan Kakek, Nenek, Tante, atau Pihak Lain

Pada saat kita sebagai orang tua sudah berusaha untuk kompak dan sepaham satu sama lain dalam mendidik anak-anak kita, tiba-tiba ada pihak ke-3 yang muncul dan cenderung membela si anak. Pihak ke-3 yang dimaksud seperti kakek, nenek, om, tante, atau pihak lain di luar keluarga inti.



Seperti pada kebiasaan ke-7 (Papa dan Mama tidak Kompak), dampak ke anak tetap negatif bila dalam satu rumah terdapat pihak di luar keluarga inti yang ikut mendidik pada saat keluarga inti mendidik; Anak akan cenderung berlindung di balik orang yang membelanya. Anak juga cenderung melawan orang tuanya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Pastikan dan yakinkan kepada siapa pun yang tinggal di rumah kita untuk memiliki kesepakatan dalam mendidik dan tidak ikut campur pada saat proses pendidikan sedang dilakukan oleh kita sebagai orang tua si anak. Berikan pengertian sedemikian rupa dengan bahasa yang bisa diterima dengan baik oleh para pihak ke-3.

9. Menakuti Anak
Kebiasaan ini lazim dilakukan oleh para orang tua pada saat anak menangis dan berusaha untuk menenangkannya. Kita juga terbiasa mengancam anak untuk mengalihkan perhatiannya, “Awas ada Pak Satpam, ga boleh beli mainan itu!” Hasilnya memang anak sering kali berhenti merengek atau menangis, namun secara tidak sadar kita telah menanamkan rasa takut atau benci pada institusi atau pihak yang kita sebutkan.



Sebaiknya, berkatalah jujur dan berikan pengertian pada anak seperti kita memberi pengertian kepada orang dewasa karena sesungguhnya anak2 juga mampu berpikir dewasa. Jika anak tetap memaksa, katakanlah dengan penuh pengertian dan tataplah matanya, “Kamu boleh menangis, tapi Papa/Mama tetap tidak akan membelikan permen.” Biarkan anak kita yang memaksa tadi menangis hingga diam dengan sendirinya.

10. Ucapan dan Tindakan Tidak Sesuai


Berlaku konsisten mutlak diperlukan dalam mendidk anak. Konsisten merupakan keseuaian antara yang dinyatakan dan tidakan. Anak memiliki ingatan yang tajam terhadap suatu janji, dan ia sanga menghormati orang-orang yang menepati janji baik untuk beri hadiah atau janji untuk memberi sanksi. So, jangan pernah mengumbar janji ada anak dengan tujuan untuk merayunya, agar ia mengikuti permintaan kita seperti segera mandi, selalu belajar, tidak menonton televisi.

Pikirlah terlebih dahulu sebelum berjanji apakah kita benar-benar bisa memenuhi janji tersebut. Jika ada janji yang tidak bisa terpenuhi segeralah minta maaf, berikan alasan yang jujur dan minta dia untuk menentukan apa yang kita bisa lakukan bersama anak untuk mengganti janji itu.

11. Hadiah untuk Perilaku Buruk Anak

Acapkali kita tidak konsisten dengan pernyataan yang pernah kita nyatakan. Bila hal ini terjadi, tanpa kita sadari kita telah mengajari anak untuk melawan kita. Contoh klasik dan sering terjadi adalah pada saat kita bersama anak di tempat umum, anak merengek meminta sesuatu dan rengekennya menjadi teriakan dan ada gerak perlawanan. Anak terus mencari akal agar keinginnanya dikabulkan, bahkan seringkali membuat kita sebagai orang tua malu. Pada saat inilah kita seringkali luluh karena tidak sabar lagi dengan rengekan anak kita. Akhirnya kita mengiyakan keinginan si Anak. “Ya sudah;kamu ambil satu permennya. Satu saja ya!”

Pernyataan tersebut adalah sebagai hadiah bagi perilaku buruk si Anak. Anak akan mempelajarinya dna menerapkannya pada kesempatan lain bahkan mungkin dengan cara yang lebih heboh lagi.

Menghadapi kondisi seperti ini, tetaplah konsisten; tidak perlu malu atau takut dikatakan sebagai orang tua yang kikir atau tega. Orang beefikir demikian belum membaca buku tentang ini dan mengalami masalah yang sama dengan kita. Ingatlah selalu bahwa kita sedang mendidik anak, Sekali kite konsisten anak tak akan pernah mencobanya lagi. Tetaplah KONSISTEN dan pantang menyerah! Apapun alasannya, jangang pernah memberi hadiah pada perilaku buruk si anak.

12. Merasa Bersalah Karena Tidak Bisa Memberikan yang Terbaik

Kehidupan metropolitan telah memaksa sebagian besar orang tua banyak menghabiskan waktu di kantor dan di jalan raya daripada bersama anak. Terbatasnya waktu inilah yang menyebabkan banyak orang tua merasa bersalah atas situasi ini. Akibat dari perasaan bersalah ini, kita, para orang tua menyetujui perilaku buruk anaknya dengan ungkapan yang sering dilontarkan, “Biarlah dia seperti ini mungkin karena saya juga yang jarang bertemu dengannya…”

Semakin kita merasa bersalah terhadap keadaan, semakin banyak kita menyemai perilaku buruk anak kita. Semakin kita memaklumi perilaku buruk yang diperbuat anak, akan semakin sering ia melakukannya. Sebagian besar perilaku anak bermasalah yang pernah saya (penulis) hadapi banyak bersumber dari cara berpikir orang tuanya yang seperti ini.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Apa pun yang bisa kita berikan secara benar pada anak kita adalah hal yang terbaik. Kita tidak bisa membandingkan kondisi sosial ekonomi dan waktu kita dengan orang lain. Tiap keluarga memiliki masalah yang unik, tidak sama. Ada orang yang punya kelebihan pada sapek finansial tapi miskin waktu bertemu dengan anak, dan sebaliknya. Jangan pernah memaklumi hal yang tidak baik. Lakukanlah pendekatan kualitas jika kita hanya punya sedikit waktu; gunakan waktu yang minim itu untuk bisa berbagi rasa sepenuhnya antara sisa2 tenaga kita, memang tidak mudah. Tapi lakukanlah demi mereka dan keluarga kita, anak akan terbiasa.

13. Mudah menyerah dan pasrah


Setiap manusia memiliki watak yang berbeda-beda, ada yang lembut dan ada yang keras. Dominan flegmatis adalah ciri atak yang dimiliki oleh sebagian orang tua yang kurang tegas, mudah menyerah, selalu takut salah dan cenderung mengalah, pasrah. Konflik ini biasanya terjadi bila seorang yang flegmatis mempunyai anak yang berwatak keras.

Dalam kondisi kita sebagai orang tua yang tidak tegas dan mudah menyerah, si anak justru keras dan lebih tegas. Akibatnya dalam banyak hal, si anak jauh lebih dominan dan mengatur orang tuanya. Akibat lebih lanjut, orang tua sulit mengendalikan perilaku anaknya dan cenderung pasrah. Saya [penulis] sering mendengar ucapan dari para orang tua yang Dominan Flegmatis, “Duh… anak saya itu memang keras betul… saya sudah nggak sanggup lagi mengaturnya.” Atau “Biar sajalah apa maunya, saya sudah nggak sanggup lagi mendidiknya.”.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Belajarlah dan berusahalah dengan keras untuk menjadi lebih tegas dalam mengambil keputusan, tingkatkan watak keteguhan hati dan pantang menyerah. Jiak perlu ambil orang orang yang kita anggap tegas untuk jadi penasihat harian kita.

14. Marah Yang Berlebihan

Kita seringkali menyamakan antara mendidik dengan memarahi. Perlu untuk selalu diingat, memarahi adalah salah satu cara mendidik yang paling buruk. Pada saat memarahi anak, kita tidak sedang mendidik mereka, melainkan melampiaskan tumpukan kekesalan kita karena kita tidak bisa mengatasi masalah dengan baik. Marah juga seringkali hanya berupa upaya untuk melemparkan kesalahan pada pihak lain [dan biasanya yang lebih lemah, kalo ama yang lebih kuat ya takut].

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jangan pernah bicara pada saat marah! Jadi tahanlah dengan cara yang nyaman untuk kita lakukan seperti masuk kamar mandi atau pergi menghindar sehingga amarah mereda. Yang perlu dilakukan adalah bicara “tegas” bukan bicara “keras”. Bicara yang tegas adalah dengan nada yang datar, dengan serius dan menatap wajah serta matanya dalam dalam. Bicara tegas adalah bicara pada saat pikiran kita rasional, sedangkan bicara keras adalah pada saat pikiran kita dikuasai emosi.

Satu contoh lagi yang kurang baik, pada saat marah biasanya kita emosi dan mengucapkan/melakukan hal hal yang kelak kita sesali, setelah ini terjadi, biasanya kita akan menyesal dan berusaha memperbaikinya dengan memberikan dispensasi atau membolehkan hal hal yang sebelumnya kita larang. Bila hal ini berlangsung berulang kali, maka anak kita akan selalu berusaha memancing amarah kita, yang ujung ujungnya si anak menikmati hasilnya. Anak yang sering dimarahi cenderung tidak jadi lebih baik kok.

15. Gengsi untuk Menyapa
Kita pasti pernah mengalami bahwa kita terlanjur marah besar pada anak, biasanya amarah terbawa lebih dari sehari, akibat dari rasa kesal yang masih tersisa dan rasa gengsi, kita enggan menyapa anak kita. Masing masing pihak menunggu untuk memulai kembali hubungan yang normal.

Apa yang harus kita lakukan agar komunikasi mencair kembali? Siapa yang seharusnya memulai? Kita sebagai orangtua lah yang seharusnya memulai saat anak mulai menunjukkan tanda tanda perdamaian dan mengikuti keinginan kita. Dengan cara ini kita dapat menunjukkan pada anak bahwa kita tidak suka pada sikap sang anak, bukan pada pribadinya.

16. Memaklumi yang tidak pada tempatnya
Ini biasanya terjadi pada kebanyakan orang tua konservatif. Misalnya melihat anak laki laki yang suka usil, nakal banget dan suka ngacak, orang tuanya cenderung mengatakan, “Yah… anak cowo emang harus bandel” atau saat melihat kakak adik lagi jambak jambakan, mamanya bilang “maklumlah… namanya juga anak anak”. Atau bahkan ketika si anak memukul teman atau mbaknya, orang tua masih juga sempat berkelit dengan mengatakan “ya begitu deh, maklumlah namanya juga anak anak. Nggak sengaja…”

Bila kita selalu memaklumi tindakan keliru yang dilakukan anak anak, otomatis si anak berpikir perilakunya sudah benar, dan akan jadi sangat buruk kalau terbawa sampai ke dewasa.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Kita tidak perlu memaklumi hal yang tidak perlu dimaklumi kok, kita harus mendidik setiap anak tanpa kecuali sesuai dengan sifat dasarnya. Setiap anak bisa dididik dengan tegas[ingat: bukan keras] sejak usia 2 tahun. Semakin dini usianya, semakin mudah untuk dikelola dan diajak kerja sama. Anak kita akan mau bekerja sama selama kita selalu mengajaknya dialog dari hati ke hati, tegas, dan konsisten. Ingat, tidak perlu menunggu hingga usianya beranjak dewasa, karena semakin bertambah usia, semakin tinggi tingkat kesulitan untuk mengubah perilaku buruknya.

17. Penggunaan istilah yang tidak jelas maksudnya
Seberapa sering kita sebagai orang tua mengungkapkan pernyataan seperti “Awas ya, kalau kamu mau diajak sama mama/papa, tidak boleh nakal!” atau, “awas ya, kalau nanti diajak sama mama/papa, jangan bikin malu mama”, bisa juga terungkap, “kalo mau jalan jalan ke taman bermain, jangan macam macam ya”.

Nah, tanpa disadari kita seringkali menggunakan istilah istilah yang sulit dimengerti ataupun bermakna ganda. Istilah ini akan membingungkan anak kita. dalam benak mereka bertanya apa yang dimaksud dengan nakal, tingkah laku apa yang termasuk dalam kategori nakal, begitu pula dengan istilah “jangan macam macam”, perilaku apa yang termasuk kategori “macam macam”. Selain bingung, mereka juga akan menebak nebak arti dari istilah istilah tersebut.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Bicaralah dengan jelas dan spesifik, misalnya “Sayang, kalau kamu mau ikut mama/papa, tidak boleh minta mainan, permen, dan tidak boleh berteriak teriak di kasir seperti kemarin ya”. Hal ini penting agar anak mengetahui batasan batasan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta jangan lupa menyepakati apa konsekuensinya bila kesepakatan ini dilanggar.

18. Mengharap perubahan instan
Kita terbiasa hidup dalam budaya yang serba instant, seperti mie instant, susu instant, teh instant. Sehingga kita anak berbuat salah, kita sering ingin sebuah perubahan yang instant pula, misal ketika biasa terlambat bangun, nggak beresin tempat tidur, sulit dimandikan, kita ingin agar anak kita berubah total dalan jangka waktu sehari.

Apabila kita sering memaksakan perubahan pada anak kita dalam waku singkat tanpa tahapan yang wajar, kemungkinan besar anak sulit memenuhinya. Dan ketika ia gagal dalam memenuhi keinginan kita, ia akan frustasi dan tidak yakin bisa melakukanannya lagi. Akibatnya ia memilih untuk melakukan perlawanan seperti banyak bikin alasan, acuh tak acuh, atau marah marah pada adiknya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jika kita mengharapkan perubahan kebiasaaan pada anak, berikanlah waktu untuk tahapan tahapan perubahan yang rasional untuk bisa dicapainya. Hindari target perubahan yang tidak mungkin bisa dicapainya. Bila mungkin, ajaklah ia untuk melakukan perubahan dari hal yang paling mudah. Biarkanlah ia memilih hal yang paling mudah menurutnya untuk diubah. Keberhasilannya untuk melakukan perubahan tersebut memotivasi anak untuk melakukan perubahan lainnya yang lebih sulit. Puji dan jika perlu rayakan keberhasilan yang dicapainya, sekecil dan sesederhana apapun perubahan itu. Hal ini untuk menunjukkan betapa seriusnya perhatian kita terhadap usaha yang telah dilakukannya. Pusatkan perhatian dan pujian kita pada usahanya, bukan pada hasilnya.

19. Pendengar yang buruk
Sebagian besar orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak anaknya. Benarkah? Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orang tua lebih suka menyela, langsung menasehati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal usul kejadiannya.

Sebagai contoh, anak kita baru saja pulang sekolah yang mestinya pulangnya siang, dia datang di sore hari. Kita tidak mendapat keterangan apapun darinya atas keterlambatan tersebut. Tentu saja kita kesal menunggu dan sekaligus khawatir. Lalu pada saat anak kita sampai dan masih lelah, kita langsung menyambutnya dengan serentetan pertanyaan dan omelan. Bahkan setiap kali anak hendak bicara, kita selalu memotongnya. Akibatnya ia amalah tidak mau bicara dan marah pada kita.

Bila kita tidak berusaha mendengarkan mereka, maka mereka pun akan bersikap seperti itu pada kita dan akan belajar mengabaikan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jika kita tidak menghendaki hal ini terjadi, maka mulai saat ini jadilah pendengar yang baik. Perhatikan setiap ucapannya. Ajukan pertanyaan pertanyaan untuk menunjukkan ketertarikan kita akan persoalan yang dihadapinya.

20. Selalu menuruti permintaan anak.
Apakah anak kita adalah anak semata wayang? Atau anak laki laki yang ditunggu tunggu dari beberapa anak perempuan kakak-kakaknya? Atau mungkin anak yang sudah bertahun tahun ditunggu tunggu? Fenomena ini seringkali menjadikan orang tua teramat sayang pada anaknya sehingga ia menerapkan pola asuh open bar, atau mo apa aja boleh atau dituruti.

Seperti Radja Ketjil, semakin hari tuntutannya semakin aneh dan kuat, jika ini sudah menjadi kebiasaan akan sulit sekali membendungnya. Anak yang dididik dengan cara ini akan menjadi anak yang super egois, tidak kenal toleransi, dan tidak bisa bersosialisasi.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Betapapun sayangnya kita pada anak, jangan lah pernah memberlakukan pola asuh seperti ini. Rasa sayang tidak harus di tunjukkan dengan menuruti segala kemauannya. Jika kita benar sayang, maka kita harus mengajarinya tentang nilai baik dan buruk, yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang nggak. Jika tidak, rasa sayang kita akan membuat membuatnya jadi anak yang egois dan ‘semau gue’. Inilah yang dalam bahasa awam sering disebut anak manja.

21. Terlalu Banyak Larangan
Ini adalah kebalikan dari kebiasaan di atas. Bila Kita termasuk orang tua yang berkombinasi Melankolis dan Koleris, kita mesti berhati2 karena biasanya kombinasi ini menghasilkan jenis orang tua yang “Perfectionist”. Orang tua jenis ini cenderung ingin menjadikan anak kita seperti apa yang kita inginkan secara SEMPURNA, kita cenderung membentuk anak kita sesuai dengan keinginan kita; anak kita harus begini tidak boleh begitu; dilarang melakukan ini dan itu.

Pada saatnya anak tidak tahan lagi dengan cara kita. Ia pun akan melakukan perlawanan, baik dengan cara menyakiti diri (jika anak kita tipe sensitive) atau dengan perlawanan tersembunyi (jika anak kita tipe keras) atau dengan perang terbuka (jika anak kita tipe ekspresif keras). Oleh karena itu, kurangilah sifat perfeksionis kita, Berilah izin kepada anak untuk melakukan banyak hal yang baik dan positif. Berlatihlah untuk selalu berdialog agar kita bisa melihat dan memahami sudut pandang orang lain. Bangunlah situasi saling mempercayai antara anak dan kita. Kurangilah jumlah larangan yang berlebihan dengan meminta pertimbangan pada pasangan kita. Gunakan kesepakatan2 untuk memberikan batas yang lebih baik. Misal, kamu boleh keluar tapi jam 9 malam harus sudah tiba di rumah. Jika kemungkinan pulang terlambat, segera beri tahu Papa/Mama.

22. Terlalu Cepat Menyimpulkan
Ini adalah gejala lanjutan jika kita sebagai orang tua yang mempunyai kebiasaan menjadi pendengar yang buruk. Kita cenderung memotong pembicaraan pada saat anak kita sedang memberi penjelasan, dan segera menentukan kesimpulan akhir yang biasanya cenderung memojokkan anak kita. Padahal kesimpulan kita belum tentu benar, dan bahan seandainya benar, cara seperti ini akan menyakitkan hati anak kita.

Seperti contoh anak yang pulang terlambat. Pada saat anak kita pulag terlambat dan hendak menjelaskan penyebabnya, kita memotong pembicaraannya dengan ungkapan, “Sudah! Nggak pake banyak alesan.” Atau “Ah, Papa/Mama tahu, kamu pasti maen ke tempat itu lagi kan?!”.

Jika kita emlakukan kebiasaan ini terus menerus, anak akan berpikir kita adalah orang tua ST 001 [alias Sok Tau Nomor Satu], yang tidak mau memahami keadaan dan menyebalkan. Lalu mereka tidak mau bercerita atau berbicara lagi, dan akibat selanjutnya sang anak akan benar benar melakukan hal hal yang kita tuduhkan padanya. Ia tidak mau mendengarkan nasehat kita lagi, dan pada tahapan terburuk, dia akan pergi pada saat kita sedang berbicara padanya. Pernahkah anda mengalami hal ini?

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jangan pernah memotong pembicaraan dan mengambil kesimpulan terlalu dini. Tak seorang pun yang suka bila pembicaraannya dipotong, apalagi ceritanya disimpulkan oleh orang lain.

Dengarkan, dengarkan, dan dengarkan sambil memberikan tanggapan positif dan antusias. Ada saatnya kita akan diminta bicara, tentunya setelah anak kita selesai dengan ceritanya. Bila anak sudah membuka pertanyaan, “menurut Papa/Mama bagaimana?” artinya ia sudah siap untuk mendengarkan penuturan atau komentar kita.

23. Mengungkit kesalahan masa lalu
Kebiasan menjadi pendengar yang buruk dan terlalu cepat menyimpulkan akan dilanjutkan dengan penutup yang tidak kalah menyakitkan hati anak kita, yakni dengan mengungkit ungkit catatan kesalahan yang pernah dibuat anak kita. Contohnya, “Tuh kan Papa/Mama bilang apa? Kamu tidak pernah mau dengerin sih, sekarang kejadian kan. Makanya dengerin kalau orang tua ngomong. Dasar kamu emang anak bodo sih.”

Kiat berharap dengan mengungkit kejadian masa lalu, anak akan belajar dari masalah. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, ia akan sakit hati dan berusaha mengulangi kesalahannya sebagai tindakan balasan dari sakit hatinya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jika kita tidak ingin anak berperilaku buruk lagi, jangan lah diungkit ungkit masa lalunya. Cukup dengan tatapan mata, jika perlu rangkullah ia. Ikutlah berempati sampai dia mengakui kesalahan dan kekeliruannya. Ucapkan pernyataan seperti “manusia itu tempatnya salah dan lupa, semoga ini menjadi pelajaran berharga buat kamu”, atau “Papa/mama bangga kamu bisa menemukan hikmah positif dari kejadian ini”. Jika ini yang kita lakukan, maka selanjutnya dia akan lebih mendengar nasehat kita. Coba dan buktikanlah!.

24. Suka Membandingkan
Hal yang paling menyebalkan adalah saat kita dibandingkan dengan orang lain. Bila kita sedang berada di suatu acara dan bertemu dengan orang yang berpakaian hampir sama atau berwarna sama, kita merasa tidak nyaman untuk berdekatan. Apalagi jiak disbanding bandingkan [FTR, saya tidak merasa seperti ini lho!]

Secara psikologis, kita sangat tdiak suka bila keberadaan kita baik secara fisik atau sifat sifat kita dibandingkan dengan orang lain. Coba ingat ingatlah pengalaman kita saat ada orang yang membandingkan kita, bagaimana perasaan kita saat itu?

Tetapi anehnya, kebanyakan orang tua entah kenapa justru sering melakukan hal ini pada anaknya. Misal membandingkan anak yang malas dengan yang rajin. Anak yang rapi dengan yang gedabrus. Anak yang cekatan dengan anak yang lamban. Terutama juga anak yang mendapat nilai tinggi di sekolah dengan anak yang nilainya rendah. Ungkapan yang sering terdengar biasanya seperti, “Coba kamu mau rajin belajar kayak adik mu, maka pasti nilai kamu tidak seperti ini!”.

Jika kita tetap melakukan kebiasaan ini, maka ada beberapa akibat yang langsung kita rasakan; anak kita makin tidak menukai kita. anak yang dibandingkan akan iri dan dengki dengan si pembanding. Anak pembanding akan merasa arogan dan tinggi hati.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Tiap manusia terlahir dengan karakter dan sifat yang unik. Maka jangan sekali kali membandingkan satu dengan yang lainnya. Catatlah perubahan perilaku masing masing anak. Jika ingin membandingkan, bandingkanlah dengan perilaku mereka di masa lalu, ataupun dengan nilai nilai ideal yang ingin mereka capai. Misalnya, “Eh, biasanya anak papa/mama suka merapikan tempat tidur, kenapa hari ini nggak ya?”

25. Paling benar dan paling tahu segalanya
Egosentris adalah masa alamiah yang terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Usia tersebut adalah masa ketika anak merasa paling benar dan memaksakan kehendaknya. Tapi entah mengapa ternyata sifat ini terbawa dan masih banyak dimiliki oleh para orang tua. Contoh ungkapan orang tua, “ah kamu ini anak bau kencur, tau apa kamu soal hidup.” Atau, “kamu tau nggak, kalo papa/mama ini sudah banyak makan asam garam kehidupan, jadi nggak pake kamu nasehatin papa/mama!”.

Jika kita memiliki kebiasaan semacam ini, maka kita membuat proses komunikasi dengan anak mengalami jalan buntu. Meskipun maksud kita adalah untuk menunjukkan superioritas kita di depan anak, tapi yang ditangkap anak adalah semacam kesombongan yang luar biasa, dan tentu saja tak seorang pun mau mendengarkan nasehat orang yang sombong.

Apa yang seharusnya kita lakukan?
Seringkali usia dijadikan acuan tentang banyaknya pengetahuan juga banyaknya pengalaman. Pada zaman dulu hal ini bisa jadi benar, namun untuk saat ini, kondisi itu tidak berlaku lagi. Siapa yang lebih banyak mendapatkan informasi dan mengikuti kegiatan kegiatan, maka dialah yang lebih banyak tahu dan berpengalaman.

Jadi janganlah merasa menjadi orang yang paling tahu, paling hebat, paling alim. Dengarkanlah setiap masukan yang datang dari anak kita.

26. Saling melempar tanggung jawab
Mendidik anak terutama menjadi tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dan ibu. Bila kedua belah pihak merasa kurang bertanggung jawab, maka proses pendidikan anak akan terasa timpang dan jauh dari berhasil. Celakanya lagi, bila orang tua sudah mulai merasakan dampak perlawanan dari anak anaknya, yang sering terjadi malah saling menyalahkan satu sama lain.

Pernyataan yang kerap muncul adalah, “kamu emang nggak becus ngedidik anak”, dan kemudian dibalas “enak aja lo ngomong begitu, nah kamu sendiri, selama ini kemana aja?!”. Jika cara ini yang dipertahankan di keluarga, akankah menyelesaikan masalah? Tunggu saja hasilnya, pasti orang tua lah yang akan menuai hasilnya, sang anak akan merasa perilaku buruknya adalah bukan karena kesalahannya, tapi karena ketidak becusan salah satu dari orang tuanya. Jelas anak kita akan merasa terbela dan semakin berperilaku buruk.

Apa yang seharusnya kita lakukan?
Hentikan saling menyalahkan. Ambillah tanggung jawab kita selaku orang tua secara berimbang.keberhasilan pendidikan ada di tangan orang tua. Pendidikan adalah kerja sama tim, da bukan individu. Jangan pakai alasan tidak ada waktu, semua orang sama sama memiliki waktu 24 jam sehari, jadi aturlah waktu kita dengan berbagai macam cara dan kompaklah selalu dengan pasangan kita.

Selalu lakukan introspeksi diri sebelum introspeksi orang lain.

27. Kakak harus selalu mengalah
Di negeri ini terdapat kebiasaan bahwa anak yang lebih tua harus selalu mengalah pada saudaranya yang lebih muda. Tampaknya hal itu sudah menjadi budaya. Tapi sebenarnya, adakah dasar logikanya dan dimana prinsip keadilannya?

Ada satu contoh nyata seperti berikut:

Ada seorang kakak beradik, kakak bernama Dita dan adik bernama Rafiq. Neneknya selaku pengasuh utama selalu memarahi Dita ketika Rafiq menangis. Tanpa mengetahui duduk persoalan serta siapa yang salah dan benar, si Nenek selalu membela si adik dan melimpahkan kesalahan pada kakaknya. “Kamu ini gimana sih? Sudah besar kok tidak mau mengalah ama adiknya.” Begitulah ucapan yang keluar dari mulut si Nenek. Terkadang dibumbui dengan cubitan pada kakaknya.

Apa yang terjadi selanjutnya? Dita menjadi anak yang tidak memiliki rasa percaya diri. Ia pun mulai membenci adiknya. Lama kelamaan Dita mulai banyak melawan atas ketidak adilan ini, dan yang terjadi kemudian adalah kedua bersaudara ini makin sering bertengkar. Sementara Rafiq yang selalu dibela bela menjadi makin egois dan makin berani menyakiti kakaknya, selalu merasa benar dan memberaontak. Sang nenek perlahan lahan menobatkan Radja Ketjil yang lalim di tengah keluarga ini.

Apa yang seharusnya kita lakukan?
Anak harus diajari untuk memahami nilai benar dan salah atas perbuatannya terlepas dari apakah dia lebih muda atau lebih tua. Nilai benar dan salah tidak mengenal konteks usia. Benar selalu benar dan salah selalu salah berapapun usia pelakunya.

Berlakulah adil. Ketahuilah informasi secara lengkap sebelum mengambil keputusan. Jelaskan nilai benar dan salah pada masing masing anak, buat aturan main yang jelas yang mudah dipahami oleh anak anak anda.

28. Menghukum secara fisik
Dalam kondisi emosi, kita cenderung sensitif oleh perilaku anak, dimulai dengan suara keras, dan kemudian meningkat menjadi tindakan fisik yang menyakiti anak.

Jika kita terbiasa dengan keadaan ini, kita telah mendidiknya menjadi anak yang kejam dan trengginas, suka menyakiti orang lain dan membangkang secara destruktif. Perhatikan jika mereka bergaul dengan teman sebayanya. Percaya atau tidak, anak akan meniru tindakan kita yang suka memukul. Anak yang suka memukul temannya pada umumnya adalah anak yang sering dipukuli di rumahnya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jangan pernah sekalipun menggunakan hukuman fisik kepada anak, mencubit, memukul, atau menampar bahkan ada juga yang pakai alat seperti cambuk, sabuk, rotan, atau sabetan.

Gunakanlah kata kata dan dialog, dan jika cara dialog tidak berhasil maka cobalah evaluasi diri kita. Temukanlah jenis kebiasaan yang keliru yang selama ini telah kita lakukan dan menyebabkan anak kita berperilaku seperti ini.


29. Menunda atau membatalkan hukuman
Kita semua tahu bahaya yang luar biasa dari merokok, mulai dari kanker, impotensi, sampai gangguan kehamilan dan janin. Tapi mengapa masih banyak yang tidak peduli dan tetap membandel untuk terus menjadi ahli hisap? Jelas karena akibat dari rokok itu terjadi kemudian dan bukan seketika itu juga.

Begitu juga dengan anak kita. Jika anda menjanjikan sebuah konsekuensi hukuman atau sanksi bila anak berperilaku buruk, jangan menunggu waktu yang terlalu lama, menunda, atau bahkan membatalkan karena alasan lupa atau kasihan.

Bila telah terjadi kesepakatan antara kita dan anak seperti tidak boleh minta minta dibelikan permen atau mainan dan ternyata anak mencoba coba untuk merengek, kita ingatkan kembali pada kepadanya tentang kesepakatan yang kita buat bersama. Anak biasanya akan berhenti merengek. Namun sayangnya kietika anak berhenti merengek , kita menganggap masalah susah selesai dan akhirnya kita menunda atau bahkan membatalkan hukuman entah karena lupa atau kasihan. Apa akibatnya? Anak akan mempunya anggapan bahwa kita hanya omong doang, maka mereka akan mempunya tendensi untuk melanggar kesepakatan karena hukuman tidak dilaksanakan.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jila kita sudah mempunyai kesepakatan dan anak melanggarnya, maka sanksi harus dilaksanakan, jika kita kasihan, kita bisa mengurangi sanksinya, dan usahakan hukumanya jangan bersifat fisik, tapi seperti pengurangan bobot kesukaan mereka seperti jam bermain, menonton tv, ataupun bermain video game.

30. Terpancing Emosi

Jika ada keinginannya yang tidak terpenhi anak sering kali rewel atau merengak, menagis, berguling dsb, dengan tujuan memancing emosi kita yang apda kahirnya kita marah atau malah mengalah. Jika kita terpancing oleh emosi anak, anak akan merasa menang, dan merasa bisa megendalikan orang tuanya. Anak akan terus berusaha mengulanginya pada kesempatan lain dengan pancingan emosi yang lebih besar la gi.

Apa yang seharusnya kita lakukan?

Yang terbaik adalah diam, tidak bicara, dan tidak menanggapi. Jangan pedulikan ulah anak kita. Bila anak menangis katakan padanya bahwa tangisannya tidak akan mengubah keputusan kita. Bila anak tidak menangis tapi tetap berulah, kita katakan saja bahwa kita akan mempertimbangkan keputusan kita dengan catatan si anak tidak berulah lagi. Setelah pernyataan itu kita keluarkan, lakukan aksi diam. Cukup tatap dengan mata pada anak kita yang berulah, hingga ia berhenti berulah, Bila proses ini membutuhkan waktu lebih dari 30 menit tabahlah untuk melakukannya. Dalam proses ini kita jangan malu pada orang yang memperhatikan kita; dan jangan pula ada orang lain yang berusaha menolong anak kita yang sedang berulah tadi… SEKALI KITA BERHASIL MEMBUAT ANAK KITA MENGALAH, MAKA SELANJUTNYA DIA TIDAK AKAN MENGULANGI UNTUK YANG KEDUA KALINYA.

31. Menghukum Anak Saat Kita Marah
Hal yang perlu kita perhatikan dan selalu ingat adalah jangan pernah memberikan sanksi atau hukuman apa pun pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, baik dalam bentuk kata2 maupun hukuman akan cenderung menyakiti dan menghakimi dan tidak menjadikan anak lebih baik. Kejadin tersebut akan membekas meski ia telah beranjak dewasa. Anak juga bisa mendendam pada orang tuanya karena sering mendapatkan perlakuan di luar batas.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Bila kita sedang sangat marah segeralah menjauh dari anak. Pilihlah cara yang tepat untuk bisa menurunkan amarah kita dengan segera.
Saat marah kita cenderung memberikan hukuman yang seberat2ya pada anak kita, dan hanya akan menimbulkan perlawanan baru yang lebih kuat dari anak kita, sementara tujuan pemberian sanksi adalah untuk menyadarkan anak supaya ia memahami perilaku buruknya. Setelah emosi reda, barulah kita memberikan hukuman yang mendidik dan tepat dengan konteks kesalahan yang diperbuat. Ingat, prinsip hukuman adalah untuk mendidik bukan menyakiti. Pilihlah bentuk sanksi atau hukuman yang mengurangi aktivitas yang disukainya, seperti mengurangi waktu main game, atau bermain sepeda.


32. Mengejek
Orang tua yang biasa menggoda anaknya, seringkali secara tidak sadar telah membuat anak menjadi kesal. Dan ketika anak memohon kepada kita untuk tidak menggodanya, kita malah semakin senang telah berhasil membuatnya kesal atau malu. Hal ini akan membangun ketidaksukaan anak pada kita dan yang sering terjadi anak tidak menghargai kita lagi. Mengapa? Karena ia menganggap kita juga seperti teman2nya yang suka menggodanya,

Apa yang seharusnya kita lakukan?
Jika ingin bercanda dengan anak kita, pilihlan materi bercanda yang tidak membuatnya malu atau yang merendahkan dirinya. Akan jauh lebih baik jika seolah-olah kitalah yang jadi badut untuk ditertawakan. Anak kita tetap aka n menghormati kita sesudah acara canda selesai. Jagalah batas2 dan hindari bercanda yang bisa membuat anak kesal apalagi malu. Bagimana caranya? Lihat ekspresi anak kita. Apakah kesal dan meminta kita segera menghentikannya? Bila ya, segeralah hentikan dan jika perlu meminta maaflah ayas kejadian yang baru terjadi. Katakan bahwa kita tidak bermaksud merendahkannya dan kita berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

33. Menyindir
Terkadang karena saking marahnya orang tua sering mengungkapkannya dengan kata2 singkat yang pedas dengan maksud menyindir, seperti, “Tumben hari gini sudah pulang”, atau “Sering2 aja pulang malem!” atau”Memang kamu pikir Mama/Papa in satpam yang jaga pintu tiap malam?”.

Kebiasaan ini tidak akan membuat anak kita menyadari akan perilaku buruknya tapi malah sebaliknya akan mebuat ia semakin menjadi-jadi dan menjaga jarak dengan kita. Kita telah menyakiti hatinya dan membuatnya tidak ingin berkomunikasi dengan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Katakanlah secara langsung apa yang kita inginkan dengan kalimat yang tidak menyinggung perasaan, memojokkan bahkan menyakiti hatinya. Katakan saja, “Sayang, Papa/Mama khawatir akan keselamatan kamu lho kalo kamu pulang terlalu malam”. Dan sejenisnya.

34. Memberi julukan yang buruk
Kebiasaan memberikan julukan yang buruk pada anak bisa mengakibatkan rasa rendah diri, tidak percaya diri/mimder, kebencian juga perlawanan. Adakalanya anak ingin membuktikan kehebatan julukan atau gelar tersebut pada orang tuanya.

Solusinya
Mengganti julukan buruk dengan yang baik, seperti, anak baik, anak hebat, anak bijaksana. Jika tidak bisa menemukannya cukup dengan panggil dengan nama kesukaannya saja.

35. Mengumpan Anak yang Rewel
 
Pada saat anak marah, merengek atau menangis, meminta sesuatu dengan memaksa, kita biasanya mengalihkan perhatiannya kepada hal atau barang lain. Hal ini dimaksudkan supaya anak tidak merengek lagi. Namun yang terjadi malah sebaliknya, rengekan anak semakin menjadi-jadi. Contohnya, anak menangis karena ia minta dibelikan mainan, Kemusian kita berusaha membuatnya diam dengan berusaha mengalihkan perhatiannya seperi, ” Tuh lihat tuh ada kakak pake baju warna apa tuh…”atau” Lihat ini lihat, gambar apa ya lucu banget?”

Ingatlah selalu, pada saat anak kita sedang fokus pada apa yang diinginkannya, ia akan memancing emosi kita dan emosinya sendiri akan menjadi sensitif. Anak kita pada umumnya adalah anak yang cerdas. ia tidak ingin diakihkan ke hal lain jika masalah ini belum ada kata sepakat penyelesaiannya. Semakin kita berusaha mengalihkan ke hal lain, semakin marah lah anak kita.

Apa yang sebaiknya dilakukan?

Selesaikan apa yang diinginkan oleh anak kita dengan membicarakannya dan membuat kesepakatan di tempat, jika kita belum sempat membuat kesepakatan di rumah. Katakan secara langsung apa yang kita inginkan terhadap permintaan anak tesebut, seperti “Papa/Mama belum bisa membelikan mainan itu saat ini. Jika kamu mau harus menabung lebih dahulu. Nanti Papa/Mama ajari cara menabung. Bila kamu terus merengak kita tidak jadi jalan-jalan dan langsung pulang.” Jika kalimat ini yang kita katakan dan anak kita tetap merengek, segeralah kita pulang meski urusan belanja belum selesai, Untuk urusan belanja kita masih bisa menundanya. Tapi jangan sekali-kali menunda dalam mendidik anak.

36. Televisi sebagai agen Pendidikan Anak
Perilaku anak terbentuk karena 4 hal:

  1. Berdasar kepada siapa yang lebih dulu mengajarkan kepadanya: kita atau TV?
  2. Oleh siapa yang dia percaya: apakah anak percaya pada kata2 kita atau ketepatan wakyu program2 TV?
  3. Oleh siapa yang meyampaikannya lebih menyenangkan: apakah kita menasehatinya dengan cara menyenangkan atau program2 TV yang lebih menyenangkan?
  4. Oleh siapa yang sering menemaninya: kita atau TV?

Apa yang seharusnya kita lakukan?

  1. Bangun komunikasi dan kedekatan dengan mengevaluasi 4 hal tersebut yang menjadi faktor pembentuk perilaku anak kita.
  2. Menggantinya dengan kegiatan di rumah atau di luar rumah yang padat bagi anak2nya.
  3. Gantilah program TV dengan film2 pengetahuan yang lebih mendidik dan menantang mulai dari kartun hingga CD dalam bentuk permainan edukatif.


37. Mengajari Anak untuk Membalas

Sebagian anak ada yang memiliki kecenderungan suka memukul dan sebagian lagi menjadi objek penderita dengan lebih banyak menerima pukulan dari rekan sebayanya. Sebagian orang tua biasanya tidak sabar melihat anak kita disakiti dan memprovokasi anak kita unutuk membalasnya. Hal ini secara tidak langsung mengajari anak balas dendam. Sebab pada saat itu emosi anak sedang sensitif dan apa yang kita ajarkan saat itu akan membekas. Jangan kaget bila anak kita sering membalas atau membalikkan apa yang kita sampaikan kepadanya.
 
Apa yang sebaiknya kita lakukan?:
  1. Mengajarkan anak untuk menghindari teman-teman yang suka menyakiti.
  2. Menyampaikan pada orang tua yang bersangkutan bahwa anak kita sering mendapat perlakuan buruk dari anaknya.
  3. Ajaklah orang tua anak yang suka memukul untuk mengikuti program parenting baik di radio atau media lainnya.

Senin, 02 Juni 2014

Kabar Cianjur

Kabar Cianjur


Lesty D'academi Dapat uang kadeudeuh dari Bupati Cianjur

Posted: 01 Jun 2014 06:26 AM PDT


CIANJUR,[KC],- Bupati Cianjur Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM bertemu Lesty asal Kecamatan Cibinong Kabupaten Cianjur, salah satu nominasi Academy Dangdut Indonesia yang masuk ke Grandfinal 2 besar, dan Sebagai bentuk dukungan kepada Lesty di ajang Academy Dangdut Indonesia yang diadakan oleh station TV Indosiar, Lesty dan orang tua Lesty yang di dampingi kru Indosiar bertemu Bupati Cianjur di kediaman rumah dinas Bupati Jl. Pangeran Hidayatullah Cianjur. Rombongan tersebut langsung disambut oleh Bupati beserta ibu Hj.Yana Rosdiana Muchtar Soleh.

Pada kesempatan tersebut Bupati Cianjur, Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh merasa bangga dengan tampilnya putri Cianjur Lesty di ajang Academy Dangdut Indosiar. sebab ternyata potensi Cianjur sangat banyak. Salah satunya dalam bidang tarik suara yaitu dengan tampilnya Lesty di ajang Academy Dangdut Indosiar. dan yang lebih menariknya lagi Lesty mewakili daerah terpencil bukan dari wilayah kota, dari kota Cianjur saja jaraknya sekitar 100 km, ini membuktikan bahwa di jaman sekarang perkembangan teknologi semakin maju, lebih banyak cara untuk mengembangkan potensi yang ada. Seperti dalam ajang Academi Dangdut Indosiar salah satunya.

Selanjutnya Bupati mengajak kepada para Kepala OPD, Camat, Lurah Kades serta seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Cianjur untuk mendukung Lesty sehingga bisa menjadi juara Academy Dangdut Indosiar. Dukungan yang diberikan bisa dengan mengirim SMS ketik DA(spasi) Lesty kirim ke 7288 

Dan salah satu bentuk dukungan kepada Lesty, Bupati menyerahkan uang kadeudeuh kepada Lesty dan orang tuanya. Pemberian uang itu merupakan bentuk dukungan yang real untuk keluarga Lesty. Bupati juga Berharap bagi Lesti, tidak hanya menjadi juara Academy Dangdut Indosiar saja, tapi juga bisa mewarnai atau membawa budaya lokal khususnya di bidang tarik suara ke tingkat yang lebih luas lagi seperti tingkat Asia maupun dunia, dengan prestasi dan usia yang baru 15 tahun usia Lesty saat ini sangat memungkinkan peluang bagi Lesty untuk mencapai hal itu.

Selanjutnya Bupati menyampaikan pesan – pesannya itu melalui tim Indosiar. Saya berharap dengan dukungan yang diberikan ini dapat menjadi penambah motivasi bagi Lesty sehingga bisa menjadi juara pertama di ajang Academy Dangdut Indosiar. Yang pada akhirnya turut mengharumkan nama Kabupaten Cianjur di tingkat Nasional. [KC03]****

Lagi, Empat Anak di Cianjur Jadi Korban Kekerasan Seksual

Posted: 01 Jun 2014 06:23 AM PDT


CIANJUR,[KC],- Kekerasan seksual kembali terjadi di cianjur, kali ini menimpa empat orang anak, warga Kampung Baru, Kelurahan Pamoyanan, Kabupaten Cianjur diduga menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh tetangganya sendiri yang juga masih di bawah umur, berinisial Q (16).

Orang tua salah satu anak yang menjadi korban, AK (30), mengaku telah melaporkan kejadian memilukan itu ke Polres Cianjur pada Kamis (29/5) dengan nomor laporan STBL/B/1933/V/2014/JABAR RES CJR.

"Pengakuan anak saya, mengalami kekerasan seksual di bangunan kosong dan di bawah Jembatan Salakopi," ujarnya kepada wartawan, Minggu (1/6/2014).

Ak menuturkan sebenarnya yang mengalami kekerasan seksual ada delapan anak. Namun yang melapor baru empat orang anak, sisanya, kata dia, enggan dan takut untuk melapor.

"Kalau yang baru melapor ke Polres Cianjur baru ada empat, yang empat lagi tidak mau melapor karena takut. Pertama lapor juga saya karena ini bukan persoalan biasa," ucapnya.

Ak menuturkan dari keempat korban itu ada yang masih berusia lima tahun. Mereka pun sudah divisum di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur. "Anak saya kelas dua SD usia delapan tahun, yang lainnya kelas I SD dan sisanya saya tidak begitu hafal," tuturnya.

Sementara itu, Kapolres Cianjur, Ajun Komisaris Besar Dedy Kusuma Bakti saat dikonfirmasi membenarkan peristiwa tersebut dan pihaknya sudah mengamankan tersangkan, Q (16).

"Keterangan sementara yang kami dapat dari penyelidikan tersangka, modusnya adalah mengajak korban untuk bermain play station (PS) di rumahnya dan mengiming-imingi korban akan diberi uang jajan sebesar Rp 3.000 dan juga akan diberi layangan. Sekarang pelaku masih dalam pemeriksaan," ucapnya.

Dedy belum bisa banyak memberikan keterangan karena kasus itu masih dalam tahap pendalaman. Saat ini orang yang diduga pelaku pun masih menjalani pemeriksaan intensif. "Mohon doanya semoga bisa cepat selesai kasus-kasus semacam ini," tuturnya.[KC.03/WK -PRLM]***

Minggu, 01 Juni 2014

Kabar Cianjur

Kabar Cianjur


Lesti D'academy Bawa Nama Baik Cianjur

Posted: 31 May 2014 04:54 AM PDT


CIANJUR,[KC],- Bagi penggemar musik dangdut tentunya sudah tidak asing dengan ajang pencarian bakat yang dikhususkan untuk penyanyi dangdut, apalagi kalau bukan Dangdut Academy yang ditayangkan di Indosiar. Di ajang itulah bakat-bakat penyanyi dangdut dari seluruh tanah air berkompetisi untuk kemudian menjadi pemenang. Yang menarik dari D'academy adalah adanya juri-juri yang merupakan penyanyi senior musik dangdut sehingga benar-benar mengerti dalam menentukan penyanyi dangdut yang berkualitas. Beberapa juri diantaranya adalah Inul Daratista, Iis Dahlia, Saiful Jamil, dll.

Lesti merupakan salah satu finalis dari audisi Bandung. Ia merupakan finalis yang banyak dijagokan untuk menjadi pemenang Dangdut Academy Indosiar 2014. Belum banyak informasi mengenai Lesti. Informasi yang berhasil kami himpun tentang biodata Lesti hanyalah bahwa ia berasal dari Cianjur Jawa Barat dan saat ini masih berusia 15 tahun.

Penampilan Lesti diatas panggung selalu menarik perhatian pemirsa, karena memang Lesti memiliki suara khas dan cocok sekali melantunkan musik dangdut sehingga terdengar syahdu dan merdu memikat hati pemirsa dan juga para juri dangdut academy Indosiar. Bahkan Saiful Jamil pernah mengatakan bahwa Lesti merupakan saingan terberat bagi kontestan lain dalam ajang ini.Kemampuan olah vokal lesti didukung dengan penampilannya yang menarik dan cantik.

Sebagai seorang gadis yang datang dari desa, Lesti membuktikan bahwa dengan kemauan tinggi, ia berhasil tampil di panggung yang disaksikan oleh jutaan pemirsa di seluruh penjuru tanah air. Saat ini memang belum banyak informasi pribadi mengenai biodata Lesti Dangdut Academy. Namun seiring waktu dan bertambahnya kepopuleran Lesti, tentunya akan banyak info yang bisa didapatkan.[KC.03]***

Rabu, 28 Mei 2014

Kabar Cianjur

Kabar Cianjur


Demo Pasir Besi, Sejumlah Massa Berhentikan Armada PT. Megatop

Posted: 27 May 2014 09:16 AM PDT

CIANJUR,[KC],- Aksi unjuk rasa menolak aktivitas penambangan pasir besi yang dilakukan oleh PT. Megatop Inti Selaras di Kampung Cikamurang Desa Sukapura, Kec. Cidaun, Kab. Cianjur, Selasa (27/5/2014) kembali  berakhir ricuh. Sejumlah warga memberhentikan semua armada operasional milik PT. Megatop.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, aksi unjuk rasa yang dilakukan ribuan warga dari berbagai wilayah kecamatan di Cianjur selatan itu menolak kegiatan penambangan pasir besi yang dilakukan oleh perusahaan besar PT. Megatop. Mereka kawatir adanya aktivitas penambangan tersebut akan merusak lingkungan.

"Saat ini saja dengan kondisi seperti ini, adanya aktivitas penambangan sejumlah infrastruktur jalan rusak akibat banyaknya kendaraan berat yang lalu lalang mengangkut pasir besi. Apalagi ditambah dengan adanya aktivitas penambangan besar, kondisinya akan semakin parah," kata seorang warga melalui sambungan telepon.

Aksi unjuk rasa tersebut semakin memanas, saat beberapa massa melakukan aksi pengembosan ban armada operasional milik PT. Megatop .

Menurutnya para pengunjuk rasa tersebut bukan hanya dilakukan oleh warga Cidaun tapi banyak yang berasal dari luar Cidaun. Bahkan ada LSM dari Amanat Masyarakat Pecinta Pantai Selatan (AMPPAS) dan Pemuda Mandiri Peduli Rakyat (PMPR) yang turut mendampingi aksi unjuk rasa itu". paparnya.

Sementara itu, Ketua PMPR, Rohimat yang dihubungi melalui selulernya menyampaikan bahwa " aksi ini tidak akan pernah berhenti hingga tuntutan kami dan masyarakat agar aktifitas penambangan pasir besi dihentikan , hingga berita ini diturunkan aktifitas unjukrasa yang dilakukan massa kepada PT. Megatop masih berlangsung. [KC.03]***

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bentuk Forum DAS

Posted: 27 May 2014 03:16 AM PDT

CIANJUR,[KC],- Rapat lanjutan pembentukan Forum Daerah Aliran Sungai Kabupaten Cianjur, diikuti berbagai elemen instansi pemerintah, akademisi, praktisi, serta organisasi kemasyarakatan di Kabupaten Cianjur.
Forum ini dibentuk sebagai sinergitas antara para pemangku kepentingan birokrasi pemerintah  yang turut melibatkan anggota masyarakat pada umumnya ini disambut baik oleh berbagai pihak   yang turut hadir pada urun rembug lanjutan tersebut.  
Selain pemaparan yang disampaikan oleh tim yang dikoordinasikan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Cianjur itu juga turut menghadirkan pengurus forum DAS Cidanau Propinsi Banten untuk berbagi pengalaman terkait dengan program yang telah berhasil dilaksanakan di wilayahnya. 
Nurdiyati Kabid Kehutanan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Cianjur selaku sekretaris tim teknis mengatakan, tujuan dibentuknya forum DAS sebagai upaya pelaksanaan pengelolaan daerah aliran sungai dengan baik dan benar untuk kepentingan kesejahteraan dan kelestarian lingkungan hidup di Kabupaten Cianjur.
Sementara itu, menurut Endah Lisarini Wakil Dekan I yang ditunjuk sebagai ketua tim teknis forum DAS Kabupaten Cianjur,  bagi Fakultas Pertanian forum ini ke depannya selain bertindak sebagai koordinator juga akan banyak terlibat dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat. [KC]***

Al-Fatmah Gelar Isro Mi'raj Nabi Muhammad SAW

Posted: 27 May 2014 03:09 AM PDT


CIANJUR,[KC],- Yayasan Pondok Pesantren Al Fatmah Cianjur menggelar peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, yang diikuti seluruh keluarga besar pondok pesantren, alumni Haji KBIH AL Fatmah dan civitas akademika TK, SMP, SMK, STIT Nurul Hikmah dan STIE Widya Bangsa.
Acara yang digelar bertepatan hari libur nasional ini semakin semarak dan meriah dengan penampilan berbagai seni islami seperti hadrah dan marawis yang melibatkan para santri dan siswa siswi SMP AL Fatmah.
Hal yang berbeda ditunjukkan panitia penyelenggara, yakni pada tahun ini, peringatan isra mi'raj 1435 H menghadirkan muballigh habib Hasan Assegaf dari Megamendung Bogor. "Kami hadirkan habib Hasan agar para mustami'in dapat mengambil hikmah dan menyimak kisah perjalanan Nabi Muhammad" Ujar Agi Sya'rial Abdullah. 
Sementara itu, Ketua Yayasan Ponpes Al fatmah KH. Usman Akiki berharap ummat islam tidak hanya menyelenggarakan rutinitas tahunan peringatan isra mi'raj saja, namun harus mampu mengimplementasikan nilai nilai dan ajaran Nabi Muhammad SAW, seperti shalat 5 waktu. "Pendidikan di Al Fatmah ini, saya sangat menekankan para santri dan peserta didik membentuk karakter seorang muslim yang harus menjadi tauladan bagi yang lainnya sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Muhammad". Ujar pemilik KBIH Al Fatmah ini. [KC.04]***


Selasa, 27 Mei 2014

Kabar Cianjur

Kabar Cianjur


Masjid Kampus SMP Islam Cendekia Cianjur Diresmikan

Posted: 26 May 2014 02:37 AM PDT



CIANJUR [KC],- Masjid An Nisa  atau dikenal sebagai masjid kampus SMP Islam Cendekia Cianjur, yang pembangunannya dimulai sejak 27 Juli 2013, akhirnya Minggu 18 Mei 2014 digelar seremonial upacara peresmian yang dipusatkan di lapang futsal SICC.

Pada upacara peresmian tersebut, tampak hadir keluarga besar Pembina Yayasan Pribadi Kamila sebagai lembaga yang menaungi SMP Islam Cendekia, jajaran manajemen sekolah, unsur pimpinan muspika, unsur MUI dan masyarakat umum serta diikuti seluruh siswa siswi boarding school tersebut.

Secara berturut-turut pada kesempatan yang sama, sambutan disampaikan kepala sekolah, Kapolsek Karangtengah mewakili unsur muspika,  sambutan komisi fatwa MUI Kabupaten Cianjur  dan diakhiri sambutan Pembina Yayasan Pribadi Kamila  diikuti pembacaan sejarah pembangunan masjid.

Sementara itu  di sela sela upacara seremonial peresmian ini dihibur grup paduan suara dan seni kasidah siswa siswi sekolah tersebut.

Dari lapangan futsal seluruh hadirin dan tamu undangan menuju lokasi masjid untuk mengikuti simbolis gunting pita yang dilakukan oleh pembina yayasan menandai diresmikannya penggunaan masjid An Nisa tersebut yang diikuti dengan rangkaian acara tausyiah.

Bambang Zaenal Arifin, Kepala SMP Islam Cendekia Cianjur merasa bersyukur dengan diresmikannya mesjid sekolah ini, ia pun bersama civitas akademika SICC  akan memberdayakan masjid tersebut semaksimal mungkin, selain dipergunakan sebagai sarana ibadah, pengembangan muamalah dan sarana diskusi untuk mengembangkan syiar islam.

Sebagai tanda syukur, seluruh jamaah yang hadir pun mengakhiri seluruh kegiatan dengan melaksanakan shalat dzuhur berjamaah.

Di tempat yang sama, Pembina Yayasan Pribadi Kamila Roy Pribadi meminta agar masjid yang baru saja diresmikan untuk diberdayakan semaksimal mungkin dan dipelihara dengan sebaik baiknya. "Saya percaya kepada semua pengguna fasilitas masjid khususnya para siswa siswi akan bersama sama menjaga dan memakmurkan masjid ini" harapnya. [KC.04]*** 

Senin, 26 Mei 2014

Kabar Cianjur

Kabar Cianjur


Aksi Kejahatan Perampasan Motor di Cianjur Kian Marak

Posted: 25 May 2014 05:01 AM PDT

CIANJUR, [KC].- Aksi pencurian dan kekerasan dengan sasaran sepeda motor di wilayah Cianjur kian merajalela. Pelaku kejahatan ini bahkan cenderung makin berani karena dilakukan di siang bolong dan dalam kondisi ramai.
Riswan (18) pelajar kelas 3 SMU PGRI Cianjur salah satu korbannya. Riswan yang tengah mengantar dua keponakannya berenang di BCNY Jl. Arif Rahman Hakim tiba-tiba dipepet empat sepeda motor yang ditumpangi bertubuh gempal yang langsung merampas motornya dalam hitungan menit.
Peristiwa yang terjadi pada Minggu (25/5) siang itu tak sempat mendapat perhatian pengunjung BCNY dan warga yang lalu lalang. Mengingat proses kejadiannya yang terbilang cepat.
"Saya tiba-tiba diberhentikan oleh salah satu pengendara motor sesaat akan memasuki kompleks BCNY, mereka memaksa saya menyerahkan kunci motor dan STNK , " kata Riswan saat dihubungi, Minggu (25/5).

Riswan yang ketakutan tak bisa berkutik. Ia menyerahkan begitu saja kunci motor Mio bernopol F 2336 YU warna merah marun berikut STNKnya.
"Saya memang takut, soalnya lagi membawa anak-anak. Sehingga saat itu saya lebih memilih memberikan kunci dan STNK, " kata Riswan warga Kampung Cibatu Desa Sukamekar Kecamatan Cibinong Kabupaten Cianjur itu saat melaporkan kejadian yang menimpanya ke Mapolres Cianjur.

Saat kejadian kata Riswan, dirinya tidak berteriak sama sekali. Warga yang melihatpun nampaknya tidak memperhatikan kejadian yang dialaminya. "Salahnya saya tak berteriak minta tolong. Mungkin kalau saya berteriak kejadiannya tidak akan seperti ini," sesal Riswan.
Sebelumnya seorang mahasiswi Universitas Surya Kencana (Unsur) Diana Aprilia Putri (22) dirampok saat bermaksud pulang kerumahnya di tikungan dekat Burangkeng Desa Mangunkerta Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur, Minggu (4/5) sekitar pukul 18.30 WIB. Motor Honda Beet Nopol F 6081 ZA miliknya berhasil dirampas pelaku yang membawa senjata tajam.
Keterangan yang berhashil dihimpun menyebutkan, peristiwa yang menimpa mahasiswi Faperta (Fakultas Pertanian) Unsur Cianjur itu terjadi saat korban bermaksud mau pulang kerumahnya di Kampung Barukaso RT 03/04 Desa Sukamulya Kecamatan Cugenang setelah mengikuti perkuliahan karena mengambil kelas karyawan.
Korban mengambil jalan pintas dengan melewati tanjakan Burangkeng di Desa Mangunkerta. Namun saat melintasi tikungan burangkeng dan berjarak sekitar 100 meter tiba-tiba korban merasakan ada senjata tajam menempel dilehernya. Korbanpun berupaya mengerem sepeda motornya, tidak berlangsung lama seorang pelaku langsung menendang sepeda motor korban.
Korban bersama sepeda motornya terjatuh, demikian juga pelaku juga turut terjengkang. Korban berupaya bangun, pemegang sabuk coklat Inkai itu bermaksut melawan, tapi saat melihat pelaku mengacung-acungkan golok, korban mengurungkan niatnya. Melihat korbannya tidak berdaya, pelaku langsung mengambil motor korban dan melarikan diri ke arah Perkebunan Gedeh.

"Cerita anak saya, pelaku mengenakan kemeja putih, celana jins lusuh serta menbgenakan jas hujan transparan sepotong. Usianya ditaksir sekitar 40 tahunan," kata Anon Mulidah (43) ibu korban [KC-02]***. 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!









Minggu, 25 Mei 2014

Kabar Cianjur

Kabar Cianjur


Jawara SMPN 4 Cianjur, Siap Bertanding di Tingkat Propinsi

Posted: 24 May 2014 03:12 AM PDT


CIANJUR, [KC],- SMPN 4 Cianjur sebagai salah satu sekolah menengah lanjutan pertama  di Kabupaten Cianjur yang termasuk salah satu sekolah favorit, hampir setiap tahunnya dibanjiri piala penghargaan dari penyelenggara kegiatan. Hampir Setiap mengikuti lomba OSN, O2SN maupun FLS2N yang diselenggarakan setiap tahunnya, mulai tingkat sub rayon hingga tingkat kabupaten tak pernah merelakan piala yang diperebutkan untuk dimiliki oleh sekolah lain.

Ketika kita akan memasuki ruang kantor sekolah, kita dipastikan disuguhi ratusan piala telah tertata rapi yang terletak persis di depan kantor Kepala Sekolah. Ratusan piala itu bukanlah pemberian cuma-cuma namun itu menunjukkan hasil jerih payah dan perjuangan anak didik SMPN 4 Cianjur.

Gelar juara yang pernah disabet pada bidang lomba di tingkat kabupaten tahun 2014 diantaranya, OSN Matematika, OSN Fisika, OSN IPS, FLS2N musik tradisional, FLS2N Story Telling, O2SN Bulutangkis putra, O2SN catur putra, O2SN tenis meja putri, FLS2N story telling, dan lomba PMR. Bukan tanpa alasan, keberhasilan peserta didik dalam meraih dan mempertahankan gelar juara tersebut tidak terlepas dukungan penuh pihak sekolah, serta para guru pembimbing mereka.

Salah seorang peserta didik kelas VIII, Muhammad Hikmat Irham Maulana peraih juara OSN Matematika dan juara 1 Story telling tingkat kabupaten mengaku siap menghadapi lomba tingkat provinsi yang akan segera digelar pada tanggal 25 Mei 2014 mendatang."Saya berharap do'a dan dukungan dari semua pihak, agar diberikan kekuatan mental menjelang keikutsertaan tingkat propinsi" ujar siswa berkaca mata ini.

Pada kesempatan terpisah, Siti Geni wakasek kesiswaan dan Erliana adalah dua srikandi yang selama ini menjadi pembimbing untuk mata lomba matematika dan lomba lomba lainnya berharap, siswa yang dibimbingnya ini selain mempersipakan penguasaan materi lomba, namun juga berupaya mengasah mental mereka. "harus diakui di tingkat provinsi nanti, anak anak akan menghadapi lawan-lawan yang lebih berat lagi dari tingkat kabupaten, oleh karenanya kami berupaya untuk membangkitkan kepercayaan diri mereka".     

Berikut daftar prestasi siswa/i SMPN 4 Cianjur Tahun 2014 Tingkat Kabupaten :

1. M. HIKMAT IRHAM JUARA 1 OSN MATEMATIKA TINGKAT KABUPATEN
2. M. FIKRI FAKHRURROZY JUARA 1 OSN FISIKA TINGKAT KABUPATEN
3. ANGGIE PUTRI JUARA 8 OSN IPS TINGKAT KABUPATEN
4. SAFELA, PUJA, RAZARDIE, SALMAN, DEPI JUARA 1 FLS2N MUSIK TRADISIONAL
5. M. HIKMAT IRHAM JUARA 1 FLS2N STORY TELLING
6. M. NAZAR JUARA 1 O2SN BULUTANGKIS PUTRA
7. SIDDIQ JUARA 1 O2SN CATUR PUTRA
8. SENDI JUARA 1 O2SN TENIS MEJA PUTRI
9. DEVI CHERLY JUARA 3 FLS2N STORY TELLING 
10. TEAM PMR JUARA 3 LOMBA  PP 

[KC.04]****

Kurikulum 2013, Siapa Takut?

Posted: 24 May 2014 03:01 AM PDT

Dr. Ir. H. Dede Sunaryat, M.Pd
Pengawas SMK Kab. Cianjur

Tahun pelajaran 2013/2014 sebentar lagi akan berakhir dan tahun pelajaran baru sudah di depan mata. Jika pada tahun pelajaran yang lalu terdapat beberapa sekolah dari seluruh jenjang (SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK) yang dijadikan sekolah sasaran untuk melaksanakan kurikulum 2013, maka pada tahun pelajaran baru ini semua sekolah sudah harus melaksanakan kurikulum baru tersebut. Artinya, mau tidak mau dan siap tidak siap semua sekolah, semua kepala sekolah, dan semua guru pada semua jenjang  harus mau dan harus siap melaksanakannya.
Dari obrolan dengan beberapa kepala sekolah dan beberapa guru, penulis menangkap masih adanya kebimbangan pada sebagian dari kepala sekolah dan guru-guru terkait adanya keharusan tersebut. Kebimbangan ini muncul akibat sosialisasi  yang baru dilakukan kepada sebagian dari guru dan kepala sekolah, artinya sebagian dari mereka masih belum memiliki pemahaman yang memadai tentang apa itu kurikulum 2013 dan bagaimana cara mengimplementasikannya. Untuk itu, dalam tulisan ini penulis mencoba berbagi dengan pembaca tentang hakikat dari kurikulum 2013.
Kenapa harus kurikulum 2013?
Apabila kita tela'ah dari masa ke masa, kurikulum selalu berubah dan perubahan tersebut pada dasarnya merupakan upaya untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisi kekinian, dalam arti bahwa kurikulum yang merupakan jantung dari layanan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, harus dapat dijadikan acuan untuk memberikan layanan pendidikan terbaik, sesuai dengan kebutuhan saat itu, sehingga mutu lulusan yang dihasilkan dapat memenuhi harapan-harapan dari para pemangku kepentingan pendidikan tersebut. 
Khusus untuk kurikulum 2013,  kurikulum ini bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Tujuan tersebut sangatlah logis, karena untuk dapat hidup dengan layak di era global memang dibutuhkan pribadi-pribadi yang  produktif, kreatif dan inovatif serta dilandasi oleh akhlak yang baik yang dicirikan oleh keimanan yang tinggi terhadap Tuhan YME dan perilaku yang baik kepada sesama serta lingkungan. Dengan kata lain, manusia Indonesia yang dihasilkan dari hasil-hasil pendidikan kedepan, diharapakan akan memiliki kompetensi yang tinggi serta akhlak yang baik, sehingga, melalui tangan-tangan para pemuda yang kompeten di bidangnya masing-masing serta memiliki akhlak yang mulia, kekayaan alam yang melimpah yang ada di negeri ini dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan bangsa sendiri, bukan sebaliknya, negeri kita yang kaya dengan sumber daya alam, tetapi yang sejahtera malah bangsa lain. 
Alasan logis dari disempurnakannya kurikulum lama menjadi kurikulum 2103 tertuang dalam filosofi  kurikulum 2013, yaitu:
  • Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang. 
  • Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. 
  • Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu
  • Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism).

Apa yang berubah?
Terdapat empat elemen perubahan dari kurikulum yang lalu  kepada kurikulum 2013. Empat elemen tersebut meliputi standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses dan standar penilaian. 
Apa yang dimaksud dengan standar kompetensi lulusan?
Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar Kompetensi Lulusan tersebut digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Ruang lingkup Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria kualifikasi kemampuan peserta didik yang diharapkan dapat dicapai setelah menyelesaikan masa belajarnya di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Bagaimana isi dari kurikulum 2013?
Isi kurikulum 2013 tergambar pada Permendikbud Nomor 67 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum untuk SD/MI, Permendikbud Nomor 68 tahun 2013 tantang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum untuk SMK/MTs, Permendikbud Nomor 69 tahun 2013 tantang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum untukSMA/MA, dan Permendikbud Nomor 70 tahun 2013 tantang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum untuk SMK/MAK. Pada dasarnya kurikulum untuk semua jenjang terdiri atas standar kompetensi lulusan, kompetensi inti, kompetensi dasar dan kelompok mata pelajaran. Terdapat empat kompetensi inti yang harus dicapai oleh semua peserta didik pada semua jenjang pendidikan, yaitu KI-1 yang berkaitan dengan sikap ketuhanan, KI-2 yang berkaitan dengan sikap terhadap sesama dan lingkungan alam sekitar, KI-3 yaitu kompetensi yang terkait dengan pengetahuan, serta KI-4 yaitu kompetensi yang terkait dengan keterampilan. Keempat KI tersebut harus tersampaikan oleh setiap guru dalam setiap pembelajaran yang dipimpinnya. KI-1 dan KI-2 harus dapat dicapai oleh setiap peserta didik melalui pembiasaan yang diperolehnya pada setiap kegiatan pembelajaran - melalui metode-metode pembelajaran yang kreatif, inovatif dan menyenangkan – untuk menghantarkan KI-3 dan KI-4.
Untuk jenjang SD/MI dan SMP/MTs, mata pelajaran dikelompokan menjadi kelompok A dan B. Kelompok A terdiri atas: Pendidikan agama dan budi pekerti, Pendidikan Panacasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan IPS. Kelompok B terdiri atas: Seni Budaya dan Prakarya dan Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan.
Untuk jenjang SMA, mata pelajaran dikelompokkan menjadi kelompok  wajib A, kelompok wajib B dan kelompok  C (peminatan). Sementara untuk SMK, mata pelajarannya dikelompokkan menjadi kelompok A, Kelompok B, dan kelmpok C (peminatan). Kelompok C ini dibagi lagi menjadi Kelompok C1, yaitu dasar bidang keahlian, kelompok C2 yaitu dasar program keahlian dan kelompok C3 yaitu paket keahlian.
Bagaimana proses pembelajaran pada kurikulum 2013?
 Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan berdasarkan kurikulum 2013 harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. 
Pendekatan pembelajaran pada kurikulum 2013 adalah pendekatan saintifik, yaitu pendekatan pembelajaran yang mengikuti tahapan mengamati, menanya, mencoba, menalar, mengkomunikasikan. Selain itu, segala sesuatu yang mereka pelajari harus bermakna. Melalui tahapan belajar seperti itu diharapkan peserta didik akan terbiasa untuk kritis, berani mencoba, memiliki kemampuan nalar yang tinggi, mampu membuat konsep, dapat mengimplementasikan ilmu, pengetahuan serta keterampilannya ke dalam kehidupan nyata dan sebagainya. Sementara itu, pada jenjang SD/MI dan SMP/MTs, pendekatan pembelajaran lebih menekankan pada pendekatan tematik terpadu.
Yang paling penting bagi guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 adalah adanya kemauan untuk berubah, baik mindset maupun perilaku mengajar, agar pembelajaran yang dilaksanakan dapat memenuhi prinsip-prinsip:  (1)  dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;  (2) dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;  (3) dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;  (4) dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;  (5) dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; (6) dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi; (7) dari pembelajaran verbalisme  menuju  keterampilan  aplikatif;    (8) meningkatan  keseimbangan antara keterampilan fisikal  (hard skills) dan keterampilan  mental (softskills); (9)  pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;  (10)  pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); (11) pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; (12) pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas. (13) Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan (14)  pengakuan atas perbedaan individualdan latar belakang budaya peserta didik.
Bagaimana pembelajaran pada kurikulum 2013 dinilai?
Penilaian hasil belajar pada kurikulum 2013 dilakukan dengan penilaian otentik, yaitu penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses,dan keluaran (output) pembelajaran. Teknik penilaiannya dapat berupa observasi, tes tulis, tes lisan, tes unjuk kerja, portofolio dan atau karya nyata.
Ada beberapa prinsip yang harus dipenuhi dalam kegiatan penilaian hasil belajar menurut kurikulum 2013, yaitu:
  • Objektif, berarti penilaian berbasis pada standar dan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilai.
  • Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan.
  • Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya.
  • Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diakses oleh semua pihak. 
  • Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggung-jawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya.
  • Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.

Sementara itu, pendekatan penilaian yang digunakan adalah penilaian acuan kriteria (PAK). PAK merupakan penilaian pencapaian kompetensi yang didasarkan pada kriteria yang telah ditentukan. Oleh karena itu, dalam setiap melakukan penilaian hasil belajar, khususnya pada penilaian sikap yang dilakukan melalui observasi - guru harus selalu membuat rubrik, yang menyatakan tingkatan capaian siswa dalam sikap tertentu sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan.
Demikian paparan singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat. Yang paling penting bagi penulis adalah, penulis  mengajak  teman-teman kepala sekolah dan guru untuk menerima perubahan ini, karena - sebagaimana telah penulis paparkan pada awal tulisan ini - bahwa salah satu filosofi  kurikulum 2013 adalah social reconstructivism, yaitu sebagai bagian dari upaya untuk melakukan rekonstruksi sosial, dengan harapan agar generasi muda  hasil-hasil pendidikan kedepan memiliki karakter yang lebih baik dari generasi saat ini. Perubahan yang paling penting bagi guru adalah dalam hal bagaimana merencanakan pembelajaran, bagaimana memimpin pembelajaran dan bagaimana menilai hasil belajar, agar efektif dan produktif sehingga dapat membangun sikap, pengetahuan serta keterampilan siswa secara komprehensif dan utuh, sesuai dengan amanat Undang-undang Sisdiknas[KC.04]**** 


Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Tim Malkovic
CEO
David Bell
Creative Designer
Eve Stinger
Sales Manager
Will Peters
Developer

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

9983 City name, Street name, 232 Apartment C

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

595 12 34 567